
Rangkaian Orientasi Santri Baru Spemdalas Boarding School (SBS) resmi ditutup pada Sabtu, 18 Juli 2026, di SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik. Kegiatan penutupan diawali dengan senam dan sarapan bersama, dilanjutkan fun games, awarding, dan penutupan di Coding and Artificial Center (CAC) Room. Seluruh rangkaian orientasi telah berlangsung selama sepekan sejak Sabtu, 11 Juli 2026.
Musyrif SBS, Husni Firmansyah, S.Hum., menjelaskan bahwa orientasi dirancang untuk membantu santri baru beradaptasi dengan kehidupan di asrama.
“Selama orientasi, para santri dikenalkan dengan berbagai kegiatan yang akan mereka jalani di asrama. Mereka juga dibekali keterampilan hidup seperti belajar melipat baju, menata lemari, serta mengikuti matrikulasi materi diniyah yang meliputi tahfidz, tahsin, dan kajian hadis,” ujarnya.
Sementara itu, musyrif Muhammad Fadlum, S.E., menyampaikan bahwa hari penutupan dikemas lebih menarik melalui kegiatan kebersamaan.
“Selain senam dan sarapan bersama, pada hari penutupan kami mengadakan beberapa fun games di lapangan untuk melatih kekompakan, kerja sama, dan kebersamaan antarsantri,” tuturnya.
Dalam sambutannya pada acara penutupan di CAC Room, Wakil Kepala bidang ISMUBA Spemdalas, Ain Nurwindasari, S.Th.I., menegaskan bahwa orientasi bukan sekadar kegiatan perkenalan, tetapi menjadi bekal awal bagi santri dalam menjalani kehidupan di boarding school.
“Orientasi ini bertujuan agar santri baru mengenal kakak kelasnya, memahami budaya positif yang ada di asrama, serta memahami kedudukan santri dan musyrif-musyrifah dalam kehidupan boarding,” ungkapnya.
Ain juga berpesan agar seluruh santri mampu menempatkan diri sebagai penuntut ilmu dengan menjaga etika dan adab kepada kakak kelas maupun musyrif-musyrifah.
“Hormatilah musyrif dan musyrifah sebagaimana kalian menghormati orang tua di rumah. Mereka hadir untuk membimbing, mendampingi, dan menjadi teladan selama kalian tinggal di asrama,” pesannya.
Selain itu, Ain mengingatkan pentingnya menaati tata tertib yang berlaku di asrama.
“Di asrama terdapat aturan yang harus ditaati bersama. Tata tertib dibuat bukan untuk membatasi, tetapi untuk menciptakan kehidupan yang tertib, aman, nyaman, dan kondusif sehingga seluruh santri dapat belajar, beribadah, dan berkembang dengan optimal,” tegasnya.
Penulis: Ain Nurwindasari