
Belajar bahasa tidak hanya tentang memahami kata dan kalimat, tetapi juga tentang mengenal budaya dan berbagi cerita dari tempat kita berasal. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Intercultural Exchange Program siswa International Class Program (ICP) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik bersama native speaker dari United Kingdom, Zahra Ali pada Rabu, (20/8/2026).
Zahra Ali merupakan mahasiswi yang berbasis di London, United Kingdom, dengan latar belakang pendidikan di Queens’ School dan Brampton College, London. Ia memiliki pengalaman di bidang content editing dan digital illustration, termasuk sebagai Content Editor di Aam Creative dan digital illustrator secara mandiri. Pengalamannya dalam kreativitas, komunikasi, dan mentoring turut mendukung interaksi lintas budaya bersama siswa ICP.
Dalam kegiatan ini, Zahra Ali diajak mengenal salah satu kekayaan budaya lokal Gresik, yaitu Damar Kurung, lentera berbentuk kubus yang memiliki empat sisi dan dihiasi gambar-gambar yang mengandung cerita. Setiap sisi Damar Kurung dapat menggambarkan kehidupan sehari-hari, kebiasaan masyarakat Gresik, ajaran Islam, maupun tradisi budaya.
Di kelas VIII ICP Germanium, Zahra Ali dan seluruh siswa tidak hanya menggali pengetahuan tentang Damar Kurung, tetapi juga terlibat langsung dalam proses membuatnya. Siswa dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok merakit kerangka Damar Kurung, kemudian mewarnai gambar yang telah disiapkan. Setelah selesai, gambar-gambar tersebut ditempelkan pada keempat sisi Damar Kurung. Aktivitas tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung sekaligus bekerja sama dalam kelompok.
Materi yang dipelajari juga menyebutkan Mbah Masmundari, seniman perempuan legendaris asal Gresik yang dikenal luas karena karyanya dalam melestarikan dan mempopulerkan Damar Kurung. Selain sebagai karya seni, Damar Kurung memiliki peran penting sebagai simbol identitas budaya Gresik serta memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi Ramadan.
Setelah proses pembuatan selesai, setiap kelompok menyiapkan presentasi. Perwakilan kelompok, yaitu Ahnaf Renato K., Meysha Putri, Tiara Rahina, dan Ardhyona Secondia, tampil mempresentasikan Damar Kurung di hadapan teman-teman sekelas dan Zahra Ali. Presentasi tersebut dimoderatori oleh Aqila Askha Rizaldy.
Sesi presentasi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Zahra Ali memberikan dua pertanyaan kepada para siswa.
Pertanyaan pertama adalah, “What kind of stories or activities are usually shown in the pictures on Damar Kurung?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ahnaf Renato, “The pictures usually show daily life, the habits of Gresik people, Islamic teachings, and cultural traditions.” Jawaban tersebut sejalan dengan materi yang dipelajari siswa bahwa gambar pada Damar Kurung menampilkan kehidupan sehari-hari, ajaran Islam, dan tradisi budaya.
Pertanyaan kedua, “Why is Damar Kurung traditionally displayed during Ramadan?”, dijawab oleh Meysha Putri. Ia menjelaskan, “Damar Kurung is traditionally displayed during Ramadan, especially during cultural celebrations and Lailatul Qadr. Its light creates a festive and spiritual atmosphere.” Materi pembelajaran juga menjelaskan bahwa Damar Kurung secara tradisional ditampilkan selama Ramadan, terutama dalam perayaan budaya dan Lailatul Qadr.

Bagi Khotimatul Khusnah, S.Pd., Koordinator ICP, kegiatan ini menjadi bagian penting dari pembelajaran lintas budaya.
“Intercultural exchange bukan hanya tentang menerima informasi dari native speaker mengenai kehidupan Muslim di London. Kita juga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi khas Gresik kepada mereka.” Melalui kegiatan membuat dan mempresentasikan Damar Kurung, siswa tidak hanya mengembangkan kreativitas, kerja sama, dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, tetapi juga belajar menjadi young cultural ambassadors (duta kebudayaan) yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat dari negara lain. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal kehidupan dan perspektif dari budaya lain tanpa kehilangan keterikatan dengan identitas daerahnya.
“Dengan demikian, siswa belajar bahwa pertukaran budaya adalah proses saling mengenal, berbagi, dan menghargai keberagaman,” ungkap Khotimatul.
“Nilai utama Damar Kurung, lentera bercerita sebagai simbol identitas budaya Islami Gresik sangat perlu dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda, ini merupakan salah satu tanggung jawab kami di sekolah,” lanjut Khotimatul menutup wawancara.
Penulis: Dina Hanif Mufidah