Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant
Halo! Saya AISA - Artificial Intelligence Spemdalas Assistant.
Ada yang bisa saya bantu?

Krisis Adab di Ruang Kelas, Kepala Spemdalas Ajak Guru Kembalikan Pendidikan pada Fitrahnya

0
0
0
0

Pembiasaan guru dan karyawan setiap pagi dilakukan sebelum masuk tahun ajaran baru. Kegiatan diawali dengan pembiasaan pagi berupa salat Dhuha berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan doa pagi yang menjadi budaya religius di SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas). Setelah itu, seluruh guru dan karyawan mengikuti kajian bertajuk “Krisis Adab di Ruang Kelas: Cerminan Kegagalan Pendidikan Karakter” yang disampaikan Kepala Spemdalas, Yugo Triawanto, M.Si., pada Selasa (7/7/2026) di Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB.

Kajian tersebut menjadi ruang refleksi bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan dalam menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027. Dalam paparannya, Yugo mengajak seluruh guru mengembalikan orientasi pendidikan pada hakikatnya, yakni membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki adab dan karakter yang mulia.

Menurutnya, berbagai persoalan yang belakangan muncul di dunia pendidikan, seperti menurunnya rasa hormat kepada guru, melemahnya tanggung jawab peserta didik, meningkatnya pelanggaran tata tertib, hingga berbagai bentuk perilaku menyimpang di lingkungan sekolah, sejatinya hanyalah gejala yang tampak di permukaan.

“Permasalahan-permasalahan itu ibarat gunung es. Yang terlihat hanya sebagian kecil, sedangkan akar persoalannya jauh lebih besar, yaitu krisis adab dan bergesernya orientasi pendidikan,” ungkapnya.

Yugo juga menyoroti perubahan relasi antara guru dan peserta didik. Dahulu, guru dipandang sebagai orang tua kedua yang diberi kepercayaan penuh oleh keluarga untuk mendidik anak-anak mereka. Namun kini, pada sejumlah kasus, guru justru berada pada posisi yang rentan, bahkan tidak sedikit yang menghadapi tekanan hingga dikriminalisasi ketika menjalankan tugas mendidik.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan pendidikan tidak cukup hanya melalui aturan, sanksi, atau pendekatan administratif. Yang lebih mendasar adalah membangun kembali budaya adab dalam seluruh ekosistem pendidikan.

Ia menjelaskan, krisis adab tidak dapat dilepaskan dari bergesernya paradigma pendidikan akibat pengaruh sekularisme, relativisme moral, serta orientasi pendidikan yang lebih menitikberatkan pada capaian akademik daripada pembentukan karakter. Akibatnya, keberhasilan peserta didik sering kali hanya diukur dari nilai dan prestasi, sementara adab justru terabaikan.

Dalam perspektif Islam, lanjut Yugo, pendidikan merupakan proses ta’dib, yakni membentuk manusia yang mengenal Allah Swt., memahami kedudukannya sebagai hamba, serta mampu menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Oleh sebab itu, guru bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan juga murabbi dan teladan akhlak bagi peserta didik.

Ia mengajak seluruh guru Spemdalas untuk terus menghadirkan keteladanan dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Penulis: Ain Nurwindasari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section