Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant

Teach & Thrive Workshop, Perkuat Kompetensi Guru Menuju Pembelajaran Bilingual Bertaraf Internasional

0
0
0
0

SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas) terus memperkuat kualitas pembelajaran bilingual sebagai bagian dari komitmennya mewujudkan pendidikan bertaraf internasional. Salah satu langkah nyata yang ditempuh adalah menggelar Teach & Thrive Workshop bertajuk “Teaching My Subject in English” pada Sabtu (5/9/2026) di Ruang Kader Sang Pencerah Spemdalas.

Workshop ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri atas guru Spemdalas serta guru undangan dari sekolah-sekolah di lingkungan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik, yaitu SD Muhammadiyah 1 GKB (SD Mugeb), SD Muhammadiyah 2 GKB (SD Berlian), dan SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio).

Kegiatan dibuka dengan sambutan dan motivasi dari Kepala Spemdalas, Yugo Triawanto, M.Si. Dalam sambutannya, Yugo mengajak para guru dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di lingkungan GKB untuk membangun budaya kolaborasi.

“Mari kita saling berkolaborasi, saling belajar, dan saling memberi semangat antarsekolah. Dengan begitu, praktik baik yang ada di masing-masing sekolah bisa semakin meluas dan ekosistem pendidikan Muhammadiyah di GKB akan semakin kuat,” ujar Yugo.

Wakil Kepala Spemdalas bidang kurikukum, Jamilah, S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran harus dimulai dari peningkatan kompetensi guru.

Teach & Thrive penting karena peningkatan kualitas pembelajaran harus dimulai dari peningkatan kompetensi guru. Guru perlu terus mengembangkan kompetensi pedagogik agar mampu menghadirkan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan sesuai kebutuhan siswa,” ujar Jamilah.

Ia menambahkan, pihaknya berharap workshop ini tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata, tetapi hasilnya benar-benar diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari dan mendorong siswa untuk lebih aktif terlibat.

Menjawab Tantangan Pembelajaran Bilingual

Koordinator Pusat Bahasa Spemdalas (PBS) sekaligus penanggung jawab kegiatan, Khoiro Numsyah, S.Pd., menjelaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan pembelajaran bilingual di kelas International Class Program (ICP).

“Di kelas ICP, guru Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris dituntut menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Tapi pada praktiknya, tidak semua guru mudah menemukan kalimat instruksional yang natural, singkat, dan mudah dipahami siswa. Banyak juga yang masih perlu membangun rasa percaya diri untuk berkomunikasi penuh dalam bahasa Inggris selama pembelajaran,” jelas Khoiro.

Untuk menjawab tantangan tersebut, workshop menghadirkan Chidubem Celstine Ebere (Mr. Richard), Online English Tutor and Training Instructor dari Magenta English Academy Surabaya, yang berpengalaman dalam pembelajaran interaktif dengan fokus pada English Communication, Academic English.

“Workshop ini kami arahkan untuk membangun dua kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi kebahasaan atau classroom English mastery,” papar Khoiro.

Ia menjelaskan, pada aspek pedagogik, para guru dilatih merancang instruksi yang terstruktur dan mudah dipahami siswa, mengelola kelas secara interaktif, serta mengasah keterampilan melalui simulasi microteaching dan umpan balik konstruktif. Sementara pada aspek classroom English mastery, pelatihan diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kelancaran guru dalam menggunakan frasa instruksional berbahasa Inggris saat mengajar.

“Salah satu prinsip yang selalu kami tekankan adalah English is a tool, not the goal. Guru tidak harus menggunakan bahasa Inggris yang kompleks. Justru bahasa yang sederhana, jelas, dan komunikatif itu kuncinya, supaya materi bisa benar-benar dipahami siswa,” tambah Khoiro.

Microteaching, Ruang Belajar Antarguru

Sejumlah peserta membagikan kesan mereka usai mengikuti workshop. Guru Matematika kelas ICP, Khotimatul Khusnah, S.Pd., mengaku mendapat banyak insight baru.

Insight yang paling menarik buat saya adalah bahwa pembelajaran itu bisa dibuat lebih kolaboratif, aktif, dan menyenangkan. Saya juga jadi semakin sadar pentingnya instruksi yang singkat dan jelas. Ke depan, saya mau memperbanyak aktivitas kolaboratif dan interaktif supaya siswa semakin aktif di kelas,” kata Khotimatul.

Sementara itu, guru Bahasa Inggris, Anisa Dwi Fitria, S.Pd., mengatakan pembelajaran dapat dikemas lebih sederhana dan dekat dengan keseharian siswa.

“Ternyata pembelajaran bisa dikemas lebih sederhana, komunikatif, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Saya berencana menerapkan simple instructions, memperbanyak speaking practice, serta lebih sering menggunakan pair work dan group discussion di kelas,” ujar Anisa.

Hal senada disampaikan oleh guru Matematika, Wiwik Indrawati, S.Pd.

“Saya mendapatkan banyak perspektif baru dari guru-guru lain lewat sesi berbagi dan microteaching. Saya ingin meningkatkan interaksi siswa, misalnya dengan meminta mereka menjelaskan jawaban dan langkah penyelesaian pakai bahasa Inggris sederhana, sekaligus memperkuat mathematical vocabulary mereka,” tutur Wiwik.

Sebagai bahan evaluasi, ketiga peserta berharap kegiatan berikutnya dapat memperbanyak sesi berbagi praktik baik, demonstrasi pembelajaran, waktu microteaching, serta umpan balik yang lebih spesifik dan aplikatif.

Pewarta : Dina Hanif Mufidah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section