Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant
Halo! Saya AISA - Artificial Intelligence Spemdalas Assistant.
Ada yang bisa saya bantu?

Merajut Makna dari Tali Merah: Siswa Kelas IX ICP Spemdalas Mengenal Chinese Knotting

0
0
0
0

Ruang kelas di SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas), Gresik, Jawa Timur, Senin siang (2/2/2026) berubah menjadi meja kerja lintas budaya.

Siswa kelas IX program Intrenational Class Program (ICP) tidak hanya mendengar cerita tentang Tiongkok, tetapi menyentuhnya langsung—melalui tali merah, pola simpul, dan ketekunan tangan—dalam sesi pengenalan Chinese knotting bersama Chenyang Lou atau Lily Laoshi.

Alih-alih memulai dengan definisi kaku, Lily Laoshi mengajak siswa membaca sejarah lewat simbol. Setiap simpul, jelasnya, menyimpan makna: keberuntungan, keharmonisan, dan harapan baik.

Warna merah yang dominan bukan sekadar estetika, melainkan bahasa kebahagiaan dan kemakmuran dalam tradisi Tiongkok. Penjelasan itu segera beralih ke praktik—pelan, bertahap, dan presisi.

Demonstrasi teknik dasar disampaikan tanpa tergesa. Lily Laoshi memperagakan cara menjaga keseimbangan tali agar pola tetap simetris, sembari menekankan satu hal sederhana namun krusial: kesabaran.

Pertanyaan mengalir dari bangku siswa, disusul upaya meniru langkah demi langkah. Kesalahan kecil tidak dimarahi; justru dijadikan contoh untuk memperbaiki ritme tangan.

Pada sesi praktik, tiap siswa menuntaskan satu karya Chinese knot sederhana—siap menjadi gantungan kunci atau hiasan. Tantangan muncul di simpul-simpul akhir, dan di situlah kolaborasi bekerja: siswa saling memberi petunjuk, mengoreksi arah lilitan, hingga simpul mengunci rapi. Kelas terasa hidup, bukan bising—fokus, namun hangat.

Ziyad Danish Falah, siswa kelas IX Hadramaut, mengaku sempat ragu di awal. “Kelihatannya rumit, tapi begitu dicoba jadi seru. Rasanya puas saat simpulnya jadi,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan refleksi singkat dan apresiasi atas setiap karya. Lebih dari sekadar kerajinan tangan, sesi ini membuka jendela budaya: belajar memahami simbol, menghargai proses, dan merayakan perbedaan melalui praktik nyata.

Di Spemdalas, pembelajaran global tidak berhenti pada wacana—ia dirajut, satu simpul pada satu waktu. (#)

Penulis: Desy Suryani

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section