Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant

Keputrian Spemdalas Bahas Cara Rasulullah Mengelola Emosi

0
0
0
0

Kegiatan Keputrian SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) mengajak para siswi memahami pentingnya kesabaran sekaligus belajar mengelola emosi dengan meneladani cara Rasulullah SAW. Kegiatan tersebut berlangsung di Andalusia Hall Spemdalas, Jumat (2/10/2026).

Materi tentang kesabaran dan pengendalian emosi disampaikan oleh dua siswi kelas IX SMA Muhammadiyah 10 GKB (Smamio), Azita Rara Ghania dan Melva Natania. Keduanya mengajak peserta untuk memahami bahwa sabar bukan sekadar menahan diri ketika menghadapi persoalan, tetapi juga kemampuan mengendalikan respons agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan.

Dalam pemaparannya, Azita dan Melva menjelaskan bahwa sabar merupakan kemampuan untuk menahan diri dari marah, mengeluh, maupun melakukan tindakan buruk ketika menghadapi masalah. Seseorang yang sabar bukan berarti tidak pernah merasakan kemarahan, melainkan mampu mengelola perasaan tersebut sebelum mengambil tindakan.

“Sabar bukan berarti tidak boleh marah, tetapi mampu mengendalikan marah agar tidak berubah menjadi tindakan yang buruk,” demikian inti pesan yang disampaikan.

Para peserta kemudian diajak mengenal beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi ketika marah dengan meneladani ajaran Rasulullah SAW. Salah satunya adalah diam. Langkah sederhana tersebut dapat membantu seseorang menghindari ucapan yang kasar atau menyakitkan ketika emosi sedang memuncak.

“Diam mencegah terucapnya kata-kata kasar agar tidak ada penyesalan di kemudian hari,” demikian penjelasan dalam materi.

Selain diam, peserta juga diperkenalkan dengan cara mengubah posisi ketika marah. Jika seseorang sedang berdiri dalam kondisi marah, ia dianjurkan untuk duduk. Apabila emosi masih belum mereda, seseorang dapat mengambil jarak atau meninggalkan sementara lingkungan yang menjadi pemicu kemarahan.

Cara lainnya adalah memaafkan dan berpikir sebelum bertindak. Dengan memberikan jeda antara munculnya emosi dan tindakan, seseorang memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan dampak dari perkataan maupun perilakunya.

Pesan tersebut diperkuat dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menjelaskan bahwa kekuatan seseorang bukan semata-mata diukur dari kemampuan fisiknya. “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

Pewarta: Dheni Iga Pratiwi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section