Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant

Kajian Spemdalas Boarding School, Ini yang Dibahas

0
0
0
0

Hadis Arbain nomor 9 menjadi pembuka kajian perdana santri SMP Muhammadiyah 12 GKB, Spemdalas Boarding School (SBS) pada semester ganjil tahun ajaran 2026–2027. Kajian yang membahas tentang menjalankan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangan tersebut disampaikan oleh Wakil Kepala Spemdalas bidang Ismuba,, Ain Nurwindasari, MIRKH, pada Kamis (3/9/2026).
Kajian dilaksanakan di CAC 1 Spemdalas dan diikuti oleh 38 santri. Melalui kajian tersebut, para santri diajak untuk memahami bahwa ketaatan kepada Allah tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk selama tinggal di asrama.
Ain mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah bersabda:
“Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.”
Dari hadis tersebut, Ain menyampaikan dua prinsip utama yang perlu menjadi pedoman para santri dalam menjalani kehidupan.
“Dua prinsip utama tersebut yaitu, laksanakan semampunya perintah Allah dan tinggalkan sepenuhnya larangan Allah,” ujarnya.

Belajar Taat dari Kehidupan Asrama
Agar makna hadis mudah dipahami, Ain kemudian mengajak para santri melihat langsung berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan mereka selama berada di asrama.
Beberapa perintah yang dapat dilaksanakan sesuai kemampuan di antaranya adalah datang tepat waktu ke masjid, mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh, menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga kebersihan kamar dan lingkungan, serta menghormati dan menaati arahan musyrif maupun musyrifah.
Sementara itu, dalam hal larangan, para santri diingatkan untuk meninggalkannya secara sepenuhnya. Contohnya tidak mengambil barang tanpa izin, tidak mengejek, merendahkan, maupun mempermalukan teman, tidak mencari-cari alasan untuk keluar dari kegiatan, serta mematuhi aturan penggunaan telepon genggam pada waktu-waktu tertentu.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan di asrama merupakan tempat yang tepat untuk melatih kedisiplinan dan ketaatan. Hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian dari proses membentuk karakter seorang muslim.
Kajian yang disampaikan mendapatkan respons positif dari para santri. Zelda Raihana Ramadhani, santri dari Asrama Putri Jalan Madiun, mengaku senang mengikuti kajian perdana tersebut.
“Saya mendapatkan ilmu baru tentang ketaatan untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Saya akan berkomitmen menjalankan salat tepat waktu,” ujarnya.

Komitmen untuk memperbaiki diri juga disampaikan oleh Akhmad Fakhri Aydin Rabbani, salah satu santri SBS. Ia mengakui bahwa selama ini telah berusaha menaati berbagai aturan di asrama, meskipun sebagai manusia terkadang masih melakukan kekurangan.
“Sudah berusaha menaati aturan, tetapi terkadang tidak taat karena saya manusia,” akunya.
Ia pun secara jujur menyampaikan salah satu kekurangan yang masih ingin diperbaikinya.
“Kadang saya tidak salat tahajud,” ujarnya. Namun, kajian tersebut menjadi penguat bagi dirinya untuk terus berusaha menjadi lebih baik.
“Saya akan mematuhi perintah dan melakukannya dengan sebaik mungkin,” komitmennya.

Pewarta : Mochammad Nor Qomari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section