Datangkan Psikolog, OTM Spemdalas Bantu Murid Kenali Emosi dan Rancang Masa Depan

0
0
0
0

Mengenali diri sendiri, memahami emosi, dan berani meminta bantuan saat menghadapi masalah, merupakan bekal penting bagi remaja dalam menapaki masa depan. Pesan tersebut mewarnai kegiatan Orang Tua Mengajar (OTM) SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas) yang menghadirkan Ika Famila Sari, SPsi, MPsi, Psikolog, Kepala Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) Smamio.

Mengusung materi “Jalan Menuju Psikolog”, kegiatan yang berlangsung di kelas VIII Aluminium pada Kamis (23/10/2026) ini mengajak murid mengenal dunia psikologi sekaligus memahami pentingnya menjaga kesehatan emosional. Ika, yang merupakan wali murid Shafira Arizka, mengemas pembelajaran melalui penjelasan profesi psikolog dan pemutaran video animasi yang dilanjutkan dengan diskusi bersama.

Dalam sesi pertama, Ika memperkenalkan psikologi dan peran seorang psikolog dalam membantu seseorang memahami serta menghadapi persoalan kehidupan. Ia menjelaskan, setiap orang dapat mengalami masalah. Karena itu, meminta bantuan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti atau dianggap sebagai kelemahan. Murid dapat berbagi cerita dengan teman, wali kelas, orang tua, maupun psikolog apabila membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Ika juga meluruskan anggapan, bahwa seseorang yang datang ke psikolog pasti memiliki gangguan kejiwaan. Menurutnya, psikolog dapat membantu seseorang mengurai persoalan agar lebih mudah dipahami dan menemukan langkah yang tepat untuk menghadapinya. Selain mendampingi seseorang dalam menghadapi masalah, psikolog juga dapat membantu murid mengenali potensi, minat, dan bakatnya. Pemahaman terhadap diri sendiri ini menjadi bekal penting untuk merencanakan pendidikan dan menentukan pilihan masa depan.

Menariknya, beberapa murid mengungkapkan ketertarikan untuk menjadi psikolog. Hal tersebut menjadi kesempatan bagi Ika untuk berbagi gambaran mengenai profesi yang dijalaninya, sekaligus memberikan wawasan bagi murid yang ingin menekuni bidang tersebut.

Belajar Mengenali Emosi dari Kisah dalam Video Animasi
Tak hanya mengenalkan profesi psikolog, Ika mengajak murid belajar mengenali emosi diri melalui pemutaran video animasi berjudul Overcome. Video tersebut mengisahkan seorang anak perempuan yang awalnya menjalani masa kecil dengan bahagia. Namun, kata-kata menyakitkan dan perundungan yang diterimanya, perlahan membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Ia mulai merasa sedih dan memandang dirinya sebagai sosok yang tidak berharga.

Dalam video itu, perasaan terluka digambarkan melalui rantai-rantai yang menjerat tubuh sang anak. Semakin sering ia mendengar kata-kata negatif, semakin banyak pula rantai yang membelenggunya.

Setelah menonton video, murid diajak berdiskusi untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Ika ingin mengajak mereka menyadari bahwa kata-kata yang terdengar sederhana dapat meninggalkan luka bagi orang lain, terutama ketika diucapkan berulang kali.

Diskusi tersebut menghasilkan pemahaman yang menarik. Murid menyadari, bahwa mereka tidak harus menerima begitu saja setiap perkataan negatif yang ditujukan kepada diri mereka. Mereka perlu belajar menyaring perkataan orang lain, membedakan masukan yang membangun dengan ucapan yang merendahkan, serta tidak menjadikan penilaian negatif sebagai ukuran harga diri. Di sisi lain, murid juga diajak lebih berhati-hati saat berbicara kepada orang lain. Sesuatu yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang belum tentu terasa lucu bagi orang yang mendengarnya. Bisa jadi, perkataan tersebut justru melukai perasaan dan memengaruhi kepercayaan dirinya.

Ika bersyukur murid mampu menangkap pesan dari video tersebut dengan baik. Melalui kegiatan ini, ia berharap mereka semakin memahami pentingnya menjaga perasaan, menghargai sesama, dan membangun hubungan yang sehat dalam pergaulan sehari-hari.

Kehadiran Ika dalam kegiatan OTM juga menjadi momen membanggakan bagi putrinya, Shafira Arizka. Ia mengaku senang melihat sang ibu berbagi ilmu dan pengalaman dengan teman-temannya.

“Sangat bangga, karena Mama bisa membagi ilmunya walaupun hanya sedikit,” tuturnya sambil tersenyum.

Bagi Shafira, ibunya merupakan sosok yang penuh perhatian dan kepedulian. Ia berharap ilmu yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi teman-temannya maupun orang lain.

“Semoga materi yang sudah disampaikan Mama bermanfaat dan baik untuk teman-teman dan semua orang,” harapnya.

Antusiasme serupa ditunjukkan Ammora Shaniha, salah satu murid kelas VIII Aluminium. Ia mengaku senang mengikuti kegiatan OTM karena materi yang disampaikan terasa dekat dengan kebutuhan dan rencana masa depannya.

“Saya antusias banget, ya karena materi yang diberikan Bu Ika sangat bermanfaat,” ungkapnya.

Salah satu bagian yang paling menarik bagi Ammora adalah pembahasan mengenai pilihan pendidikan setelah lulus SMP, termasuk menentukan sekolah lanjutan dan jurusan kuliah. Menurutnya, pemahaman tentang pilihan pendidikan dapat membantu murid mempersiapkan masa depan dengan lebih terarah.

Kegiatan ini terasa semakin bermakna bagi Ammora, karena psikologi merupakan bidang yang sesuai dengan cita-citanya. Setelah mengikuti pemaparan Ika, keyakinannya untuk menekuni profesi tersebut semakin kuat.

“Aku bercita-cita menjadi psikolog dan materi tersebut kebetulan membahas itu, dan aku semakin yakin dengan pilihanku,” ujarnya bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section