Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant
Halo! Saya AISA - Artificial Intelligence Spemdalas Assistant.
Ada yang bisa saya bantu?

Jejak Tinta dari Hangzhou: Ketika Siswa ICP Spemdalas Menulis Shufa

0
0
0
0

Aroma tinta memenuhi ruangan VIII ICP Germanium, SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik, pada Kamis (5/2/2026). Lembaran xuan zi terbentang rapi di atas meja, dan puluhan pasang mata menatap penuh rasa ingin tahu ke arah papan demonstrasi. Pagi itu, pembelajaran Bahasa dan Budaya Mandarin hadir dalam bentuk yang lebih real: praktik menulis Shufa atau kaligrafi Mandarin. Kegiatan belajar yang dirancang kolaborasi antara guru Bahasa Mandarin sekolah, Amalia Syavira—yang akrab disapa Li Laoshi—dan guru tamu dari Hangzhou, Tiongkok, Chenyang Lou atau Lily Laoshi.

Dengan senyum hangat, Lily Laoshi memulai sesi dengan mengenalkan alat dan bahan. Kuas atau maobi, tinta atau mo, serta kertas khas kaligrafi bernama xuan zi. Siswa menyimak setiap istilah, mengulang pelafalan, dan memperhatikan cara menuangkan tinta secukupnya.

“Menulis Shufa bukan hanya menggerakkan tangan, tetapi juga mengatur tenaga dan teknik agar terlihat indah,” tutur M. Kenzie Mahatma Putera, salah satu siswa VIII Germanium, setelah mencoba sendiri sensasi menggoreskan tinta di atas kertas. Langkah pertama adalah mempelajari cara memegang kuas dengan benar—tegak lurus, mantap, dan penuh kendali. Lily Laoshi memberi contoh beberapa karakter sederhana namun sarat makna: ren (人) berarti manusia, tian (天) berarti langit, ta (他) berarti dia (laki-laki), dan wo (我) berarti saya.

Pada pertemuan itu, tiga karakter dipilih untuk ditulis masing-masing tiga kali di atas xuan zi. Gerakan demi gerakan dilakukan perlahan, fokus pada tekanan dan aliran tinta. Tak semua berjalan sesuai rencana. Beberapa siswa sempat kebingungan mengontrol tinta yang terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kenzie mengaku awalnya tidak tahu cara memegang kuas dengan benar. “Saya menulisnya dengan cara yang tidak tepat, lalu melihat video tutorial yang ditayangkan di TV kelas, akhirnya saya tahu posisi yang benar,” ujarnya.

Sementara itu, siswa lain, Fathimah Kayla Werdoko menyebut pengalaman menggunakan bahan baru sebagai hal paling berkesan. “Kesulitannya saat menggunakan tinta, tapi saya mengatasinya dengan menulis lebih percaya diri,” katanya. Ia juga mengaku tertarik mempelajari hanfu, pakaian tradisional Tiongkok yang beragam. Bagi Lily Laoshi sendiri , ternyata tantangan terbesarnya memang adalah membantu siswa yang belum terbiasa mengendalikan kuas dan tinta.

“Students’ unfamiliarity with brush handling and ink control led to initial frustration,” jelasnya. Untuk mengatasinya, ia mengaitkan bentuk goresan dasar dengan pola yang familiar dalam budaya siswa serta memberikan demonstrasi singkat, langkah demi langkah, diikuti praktik langsung bersama teman sebangku. Pendekatan ini terbukti efektif menjaga fokus dan membangun rasa percaya diri melalui keberhasilan kecil.

Sepanjang sesi, Li Laoshi dan Lily Laoshi berkeliling kelas, membimbing, menyemangati, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan. Partisipasi siswa dinilai sangat positif dan penuh antusiasme. Banyak yang mengajukan pertanyaan kritis, bahkan mencoba berkreasi dengan bentuk karakter yang ditulis.

Pada akhir kegiatan, karya-karya Shufa siswa dipajang pada akrilik display kelas. Setiap lembar xuan zi menjadi saksi proses belajar lintas budaya—dari Hangzhou ke Gresik, dari tinta hitam ke makna yang lebih dalam. Dari belajar menulis Shufa ke pengalaman berharga yang akan terus dikenang.

Penulis: Dina Hanif Mufidah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section