
Pengalaman belajar yang berbeda dan penuh kesan dirasakan tiga siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik saat dipercaya mengisi stand Pameran IPA bidang Biologi dalam rangkaian Final Class Festival 2026. Kegiatan yang digelar di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Jalan Pahlawan No. 58 Gresik itu menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan hasil karya sekaligus keberanian mereka berinteraksi.
Di pelataran selatan GNI, ketiga siswa tampak antusias menjaga stand pameran biologi. Produk yang mereka tampilkan merupakan implementasi pembelajaran bioteknologi konvensional yang telah dipelajari selama semester genap. Azka Ramadhani Juniawan dari kelas IX Cordoba memamerkan produk tape pelangi, Irze Maulidina El Hamro kelas IX Damascus menghadirkan kombucha berbahan bunga telang, teh hitam, dan rosella, sedangkan Ahmad Rafif Athallah kelas IX Damascus memperkenalkan tempe karakter hasil kreativitasnya.
Bagi para siswa, pameran ini bukan sekadar memajang produk, tetapi menjadi pengalaman nyata belajar berkomunikasi, menjelaskan karya, hingga membangun rasa percaya diri.
Azka mengaku sangat menikmati suasana pameran.
“Senang banget dan seru sekali karena banyak interaksi dengan murid-murid lain dan guru,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga menyadari bahwa proses membuat produk bioteknologi ternyata membutuhkan ketelatenan.
“Ternyata membuat tape pelangi itu tidak gampang, tapi alhamdulillah bisa,” ungkapnya bangga.
Azka bahkan mengaku tertarik dengan karya temannya.
“Tadi saya mencoba kombucha milik Irze, ternyata enak banget jadi suka,” tambahnya sambil tersenyum.
Kesan mendalam juga dirasakan Irze. Awalnya ia mengaku gugup karena membayangkan harus mempresentasikan produknya di depan banyak orang. Namun suasana pameran justru membuatnya lebih percaya diri.
“Awalnya deg-degan karena kupikir harus presentasi panjang, ternyata lebih banyak ditanya-tanya saja dan aku bisa menjawabnya,” katanya.
Menurut Irze, pengalaman paling berharga adalah kesempatan berinteraksi dengan banyak siswa dan pengunjung lain.
“Rasanya seru sekali karena jadi bisa ngobrol dengan banyak orang dan tanya-tanya karya mereka juga. Aku jadi merasa seperti anak ekstrovert, padahal sebenarnya introvert,” ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, ada sedikit rasa haru yang ia rasakan.
“Sedih juga karena ini pameran terakhir sebelum kami melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.
Irze juga mengaku bangga karena berhasil membuat kombucha secara mandiri.
“Awalnya bingung dengan langkah-langkahnya, tapi setelah dicoba ternyata menyenangkan,” tambahnya.

Sementara itu, Rafif mengungkapkan rasa antusiasnya sejak awal persiapan pameran.
“Saya memang semangat karena ini pertama kalinya karya saya dilihat banyak orang,” katanya.
Meski sempat gugup saat harus menjawab pertanyaan pengunjung, ia merasa pengalaman tersebut sangat berharga.
“Awalnya grogi ketika ditanya orang-orang, tapi pengalaman ini membuat saya lebih percaya diri untuk tampil dan berbicara di depan banyak orang,” ujarnya.
Kepala Spemdalas, Yugo Triawanto, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pembelajaran mendalam yang ingin terus dikembangkan di Spemdalas.
Menurutnya, pameran produk memberikan kesempatan murid untuk merasakan pengalaman mempertanggung jawabkan karyanya, mengasah sisi nonkognitif diluar pembelajaran kelas, serta memberikan kesempatan murid untuk mengasah skill komunikasi .
“Kami ingin memberikan kesempatan belajar kepada murid untuk merasakan tempaan yang relate dengan multiintelegence. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengasah soft skill sebagai bekal untuk jenjang yang lebih tinggi,” harap Yugo.
Penulis : Mochammad Nor Qomari
