
Opini pendidikan Yugo Triawanto, M.Si. (Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik)
Generasi Z dan Generasi Alpha adalah digital native. Hal ini bukanlah stigma negatif bagi generasi yang lahir di tengah derasnya teknologi. Tugas kita adalah mendampingi mereka agar menjadi pengguna gawai yang produktif: tidak sekadar konsumen, tetapi juga produsen karya digital yang bernilai manfaat tinggi. Sayangnya, pembelajaran Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) konvensional masih sering berhenti pada teori. Tidak jarang efisiensi dijadikan dalih untuk menghindari praktik membuat produk.
Membawa praktik pembuatan produk teknologi ke dalam kelas adalah sebuah keharusan. Kolaborasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang dikerjakan murid menjadi sarana untuk mengaktifkan berbagai kecerdasan yang mereka miliki. Usia SMP justru merupakan masa emas untuk mulai menjadi kreator, bukan sekadar konsumen teknologi.
Murid, misalnya, membuat bianglala dengan memadukan mekanik dan pemrograman sehingga kelas menjadi wahana belajar yang luas. Memahami sains hanya dari bacaan tentu berbeda dengan membuat produk teknologi informasi yang menerapkan teori sains di dalamnya. Mikrokontroler yang digunakan di kelas Digital SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) menghadirkan konsep sains yang abstrak secara nyata.
Murid juga dapat diajak berliterasi digital dengan membuat otomasi dan Internet of Things (IoT) yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mikrokontroler ESP32 dan sejenisnya, yang kini sudah akrab bagi murid, dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan imajinasi mereka. Dalam kegiatan student project, misalnya, murid mampu membuat bianglala digital yang menampilkan besar sudut perjalanan bianglala pada layar mini. Dengan cara ini, besaran sudut yang semula abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
Budaya murid sebagai kreator teknologi tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga membangun pendidikan karakter, khususnya ketangguhan (resilience). Proses merakit komponen, menelusuri kesalahan kode (debugging), dan menyelesaikan rangkaian elektronika menjadi jalan menuju pemahaman yang optimal. Semua proses itu mengajarkan murid untuk bekerja sama dan tangguh bersama teman dalam menyelesaikan masalah.

Membekali murid dengan kemampuan membuat produk perangkat lunak dan perangkat keras adalah hal penting agar mereka siap menghadapi era otomasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terus berkembang. Kemudahan yang ditawarkan AI berpotensi membuat kemampuan berpikir kurang terasah. Karena itu, murid perlu diajak mencari solusi atas permasalahan nyata dengan teknologi. Dalam jangka panjang, penguasaan teknologi sebagai kreator akan berdampak besar bagi masa depan generasi muda dan bangsa.
Sekolah perlu berani mentransformasi ruang kelas menjadi Space of Innovation, yakni bengkel ide tempat murid berkarya sebagai kreator teknologi yang bermanfaat bagi sesama. Upaya ini sejalan dengan proses menempa murid menjadi generasi yang memiliki daya juang tinggi. Spemdalas menjawab kebutuhan tersebut melalui Digital Technology Class Program, yang menyediakan Space of Innovation bagi murid.