
Kreativitas murid tak hanya terlihat dari ide-ide unik yang dihasilkan, tetapi juga dari kepedulian terhadap lingkungan dan keberanian memamerkan karya. Semangat itulah yang tergambar dalam gelar karya student project murid kelas VII–IX SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Rabu (28/10/2026).
Tema “Green Generation: Satu Nusa, Satu Bumi, Satu Aksi”, menjadi tema dari gelar karya yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan puncak peringatan Bulan Bahasa bertajuk Konser Bulan Bahasa 2026. Bertempat di sebelah selatan lapangan basket, pameran tersebut menghadirkan tiga booth yang memamerkan 12 produk hasil kreativitas murid.
Beragam karya ditampilkan, mulai dari merchandise bertema pelestarian flora dan fauna, miniatur rumah ramah lingkungan, hingga miniatur permainan yang memadukan kreativitas dengan konsep sains. Setiap karya menjadi bukti bahwa proses belajar dapat melahirkan produk nyata yang menarik sekaligus bermakna.
Bianglala Unik dari Bahan Sederhana
Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah bianglala buatan Aidin Rafif Mulia, murid kelas IX Egypt. Bianglala berwarna cokelat ini tampil berbeda karena memadukan bahan sederhana, lampu LED, dan dinamo printer untuk menghadirkan miniatur yang dapat bergerak. Saat diwawancarai, Aidin menjelaskan bahwa keunikan karyanya terletak pada penggunaan kayu dan kertas duplex, pemasangan banyak lampu, serta pemanfaatan dinamo printer sebagai penggerak.
“Ukuran miniatur ini dibuat lebih besar sehingga nampak kokoh. Ide pembuatannya diambil dari web 3D, Pinterest, dan juga masukan dari bapak di rumah. Sedangkan untuk proses pembuatannya sekitar satu bulan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Aidin menjelaskan bahwa bahan-bahan untuk membuat bilanglala adalah kertas duplex, bilah kayu, lem Altiko, lampu LED, kabel, dinamo printer, sumpit, lakban hitam, paku, roda plastik, tusuk sate, spidol, dan sedotan. Untuk wadah lem Altiko juga dimanfaatkan untuk mendukung sistem kabel.
Keunikan bianglala Aidin turut menarik perhatian tiga murid kelas VIII Dubnium, yakni Rei Rosyaila Roxanne Rosyadi, Athiyah Fahitah, dan Nusaiba Layyana M.
Rei mengaku menyukai bianglala tersebut karena sistem yang digunakan dinilai kreatif. Athiyah juga memberikan apresiasi terhadap proses pembuatannya.
“Karyanya sangat kreatif dan pastinya membutuhkan waktu dan ide yang matang,” ujar Athiyah.
Sementara itu, Nusaiba menilai bianglala tersebut menarik dan menyenangkan. Apresiasi dari para pengunjung menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap usaha dan ketekunan murid dalam menghasilkan karya.
Bangga Menjaga Booth Rainforest
Semangat serupa terlihat di booth Rainforest yang dijaga oleh Mayshayu Zahwa Humaira dan Annisa Kamila Az Zahra, murid kelas VII C. Keduanya tampak antusias menyambut pengunjung dan mengajak mereka melihat produk yang dipamerkan.
“Ayo, Pak, ke booth kami. Ada game dan jualannya,” ajak mereka penuh semangat.
Mereka mengaku bangga dengan tampilan booth yang telah dipersiapkan bersama.
“Booth kami sudah bagus dan rapi karena kita bangga dengan karya kita,” ungkapnya.

Wakil Kepala Spemdalas Bidang Kurikulum, Jamilah, M.Pd., menjelaskan bahwa produk yang dipamerkan merupakan perpaduan hasil pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dengan demikian, pameran ini menjadi kesempatan bagi murid untuk menunjukkan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh selama proses belajar.
“Pada pembelajaran intrakurikuler, karya yang ditampilkan diwakili oleh project-based learning science dengan tema Leverage Project. Sementara itu, proyek kokurikuler berupa student project atau proyek kolaborasi lintas mata pelajaran menampilkan karya yang berbeda di setiap jenjang,” jelas Jamilah.
Lebih lanjut dijelaskan Jamilah bahwa murid kelas VII menghadirkan Wildwood Atelier, berupa merchandise bertema pelestarian flora dan fauna. Murid kelas VIII menampilkan Green Generation, berupa miniatur rumah ramah lingkungan. Adapun murid kelas IX menghasilkan desain miniatur, yang terinspirasi dari permainan di pasar malam dengan menerapkan prinsip fisika dan matematika.
“Beragam proyek tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung. Murid tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga mengolah ide, berkolaborasi, menghasilkan produk, dan mempresentasikan hasilnya kepada orang lain,” jelasnya.
Jamilah berharap seluruh warga sekolah dapat memberikan apresiasi terhadap hasil belajar murid, baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Ia juga berharap gelar karya ini dapat menginspirasi murid untuk terus mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Jamilah juga berharap bahwa Melalui Konser Bulan Bahasa, Spemdalas menghadirkan ruang belajar yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Tema Green Generation: Satu Nusa, Satu Bumi, Satu Aksi pun menjadi pengingat bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah sederhana, termasuk melalui ide dan karya yang dihasilkan di sekolah.
“Sebab, karya terbaik bukan hanya karya yang menarik untuk dilihat, melainkan juga karya yang menunjukkan proses belajar, menumbuhkan kebanggaan, dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal baik,” tutupnya Jamilah dengan bahagia.
Oleh : Mochammad Nor Qomari