Baitul Arqam Spemdalas, Kenali Empat Musuh Kekhusyukan Shalat dan Temukan Solusinya

0
0
0
0

Shalat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga jalan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah. Pesan inilah yang disampaikan Mohammad Chudzil Chikmat dalam kegiatan Baitul Arqam murid kelas IX SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jumat (23/10/2026).

Mengusung tema “Memperbaiki Shalat, Memperbaiki Diri”, kegiatan ini diikuti 132 murid putra kelas IX di lantai dua Masjid Taqwa Spemdalas. Dalam sesi motivasi shalat tersebut, Chikmat mengajak para murid memahami pentingnya menjaga kualitas shalat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Mengawali pemaparannya, Chikmat menampilkan gambar orang-orang yang tetap melaksanakan shalat berjamaah di tengah musibah banjir. Gambar tersebut menjadi pengingat bahwa shalat semestinya tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan, apa pun keadaan yang dihadapi. Lebih lanjut, ia kemudian mengutip nasihat para ulama tentang kedudukan shalat. Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Shalat adalah timbangan amal; siapa yang meremehkannya, ia akan meremehkan urusan lainnya.”

Chikmat juga menukil nasihat yang dinisbatkan kepada Hasan Al-Basri menyebutkan, “Jika shalatmu baik, hidupmu akan baik.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa memperbaiki shalat perlu menjadi langkah awal dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Empat Musuh Utama Kekhusyukan Shalat

Dalam pemaparannya, Chudzil Chikmat menjelaskan empat hal yang sering menjadi penghalang kekhusyukan shalat.

“Pertama, shalat terburu-buru. Keinginan untuk segera menyelesaikan shalat membuat seseorang kurang menghayati gerakan dan bacaannya. Kedua, pikiran dipenuhi urusan dunia. Tubuh memang sedang shalat, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan tugas, masalah, atau aktivitas lainnya. Ketiga, membaca bacaan shalat tanpa memahami maknanya. Bacaan yang seharusnya membantu menghadirkan hati justru menjadi rutinitas yang diucapkan tanpa penghayatan. Keempat, hati yang jarang berzikir di luar shalat. Kebiasaan mengingat Allah perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari agar hati lebih mudah hadir ketika menghadap-Nya,” jelasnya.

Menurutnya, mengenali keempat penghalang tersebut menjadi langkah awal untuk memperbaiki kualitas shalat. Setelah mengetahui penyebabnya, murid perlu berlatih menghadirkan hati, memahami bacaan, dan menjalankan shalat dengan lebih tenang.

Cara Melatih Shalat Lebih Khusyuk

Untuk membantu murid mempraktikkan shalat dengan lebih khusyuk, Chudzil Chikmat memperkenalkan pendekatan HIKMAT. Pendekatan ini mengajak murid membangun kesadaran bahwa shalat merupakan momen istimewa untuk menghadap Allah.

H – Hadirkan hati. Sebelum shalat, berhentilah sejenak dan tenangkan diri. Tarik napas, lalu tanamkan dalam hati, “Aku sedang menghadap Allah.” Dengan begitu, pikiran dan hati dipersiapkan sebelum memulai shalat.

I – Ikhlas, merendahkan diri, dan merasa butuh pertolongan Allah. Hadirkan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya. Shalat bukan untuk mendapatkan pujian orang lain, melainkan bentuk ketulusan dalam beribadah kepada Allah.

K – Kendalikan pikiran dengan memahami makna bacaan. Ketika pikiran mulai melayang, jangan panik. Kembalikan perhatian pada bacaan yang sedang dilafalkan. Berusahalah memahami maknanya dan bersabar untuk terus menghadirkan hati.

M – Merasa dicintai, diawasi, dan takut ditinggalkan Allah. Bangun kesadaran bahwa Allah mengetahui setiap keadaan hamba-Nya. Renungkan pula kemungkinan bahwa shalat yang sedang dikerjakan merupakan shalat terakhir. Kesadaran ini diharapkan membuat seseorang lebih sungguh-sungguh dalam beribadah.

A – Alirkan suara dengan tenang dan lirih. Jangan mengejar kecepatan. Perlambat bacaan dan berikan waktu untuk meresapi setiap kata. Murid diajak berlatih membaca dengan tenang, seolah-olah setiap kata benar-benar dihayati saat menghadap Allah.

T – Tujuan ibadah adalah bertemu Allah. Shalat hendaknya dilakukan bukan semata-mata karena perintah guru atau orang tua, tetapi karena keinginan untuk dekat dengan Allah. Kesadaran ini diharapkan menumbuhkan motivasi dari dalam diri untuk menjaga shalat.

Melalui pendekatan HIKMAT, murid diajak memahami bahwa kekhusyukan tidak cukup hanya diinginkan, tetapi perlu dilatih secara bertahap melalui ketenangan, pemahaman bacaan, keikhlasan, dan kesadaran akan kehadiran Allah.

Memperbaiki Shalat, Memperbaiki Kehidupan

Menutup sesi motivasinya, Chikmat menyampaikan pesan yang menghubungkan kualitas shalat dengan semangat belajar para murid.

“Kalau kamu ingin nilai naik, mulailah dari shalat yang naik kualitasnya. Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan anak yang sungguh-sungguh mendekat kepada-Nya,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi murid Spemdalas bahwa memperbaiki diri dapat dimulai dari ibadah yang paling mendasar. Shalat yang dikerjakan dengan kesadaran, ketenangan, dan kesungguhan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas harian, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih disiplin, sabar, dan dekat dengan Allah.

Pewarta : Mochammad Nor Qomari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section