
Perayaan Milad ke-2 Tagar.co menjadi forum silaturahmi para pewarta. Kegiatan bertajuk “Menyalakan Makna di Setiap Peristiwa” ini berlangsung di Favehotel, Sidoarjo, Ahad (26/7/26). Dalam rangkaian acara tersebut, Tagar.co resmi meluncurkan buku kumpulan cerpen berjudul Perginya Sang Muadzin yang berisi karya-karya pilihan dari para penulis. Dua nama dari SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) Gresik, Ichwan Arif, S.S., M.Hum. dan M. Nor Qomari, S.Pd. — berhasil menembus seleksi ketat dan karyanya turut mengisi antologi tersebut.
Kepala Spemdalas, Yugo Triawanto, M.Si. mengapresiasi hal tersebut.
“Ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Bagi Spemdalas, ini adalah bukti nyata bahwa semangat literasi tidak berhenti di ruang kelas. Para guru pun turun langsung berkarya, bukan hanya mengajarkan,” ungkapnya.
“Lantai 32 Tak Setinggi Doa Ibu: Panggilan Ibu di Atas Segalanya
Cerpen pertama adalah karya dari Ari, panggilan akrab M. Nor Qomari. Lantai 32 Tak Setinggi Doa Ibu karyanya mengisahkan Bima — seorang Investment Banking Analyst yang kariernya tengah melejit di sebuah bank ternama di Singapura. Di puncak kesuksesan itulah ia justru dihadapkan pada pilihan paling berat: bertahan mengejar karier, atau pulang memenuhi panggilan sang ibu.
“Lantai 32 tak setinggi doa ibu,” tulis Ari, menggambarkan momen ketika Bima akhirnya memilih pulang, meninggalkan gemerlap kariernya di puncak.
Lewat kisah ini, Ari ingin mengetuk kesadaran pembaca akan pentingnya berbakti kepada orang tua, terutama ibu.
“Kesempatan berbakti kepada orang tua jangan pernah disia-siakan meskipun harus mengorbankan harta, karier, maupun waktu. Cinta sejati seorang anak yang saleh adalah kepada ibu dan orang tuanya,” ujarnya.
Ia berharap pembaca membawa pulang lebih dari sekadar cerita.
“Saya berharap para penikmat cerpen mendapatkan pelajaran berharga yang dapat menjadi cermin dalam menapaki perjalanan hidup selanjutnya,” imbuhnya.
“Insomnia”: Ketika Pencitraan Melumpuhkan Amanah
Cerpen berikutnya datang dari Ichwan Arif, S.S.,M.Pd. Mengangkat judul Insomnia, Arif mengisahkan seorang pemimpin yang pada awal masa jabatannya sukses membawa negaranya melesat maju, namun perlahan tumbang oleh godaan citra diri.
“Dalam cerpen ini diceritakan tentang seorang pemimpin yang pada awal masa kepemimpinannya berhasil membawa negaranya maju dengan pesat. Namun, memasuki tahun kedua kekuasaannya, keadaan justru berbalik. Korupsi merajalela, harga kebutuhan melambung, rakyat semakin kesulitan, sementara sang pemimpin gagal menjalankan amanahnya. Pada akhirnya ia mengalami kelumpuhan, jatuh sakit, menua, dan dihantui insomnia,” tuturnya.
Ia sengaja memilih sudut pandang yang tak biasa dalam memotret sosok pemimpin — menjadikan pencitraan berlebihan sebagai “virus” yang diam-diam menggerogoti wibawa dan tanggung jawab.
“Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya membangun citra. Amanah yang diemban harus benar-benar dijalankan demi kesejahteraan rakyat,” jelasnya.
Ia berharap kisah ini bisa jadi renungan, bukan hanya untuk para pemimpin, tapi siapa saja yang memegang amanah dalam hidupnya.
“Harapan saya, cerpen ini dapat menginspirasi dan memberikan pesan agar setiap orang mampu menjalankan amanah dengan lebih baik dalam kehidupan masing-masing,” tuturnya.
Penulis : Fitri Wulandari