
Kamis (12/2/2026) menjadi hari yang sarat wawasan di kelas VIII International Class Program (ICP) Germanium SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik . Program Orang Tua Mengajar (OTM) menghadirkan apt. Rita Handayani, S.Farm—yang akrab disapa Bunda Rita—Ibunda dari Felecia Claryce Abida. Mengusung tema “Tanya Obat, Tanya Apoteker”, ia mengajak siswa mengenal lebih dekat dunia obat dan profesi apoteker secara interaktif dan kontekstual.
Bunda Rita memulai sesi dengan menjelaskan bahwa obat adalah zat atau bahan yang digunakan untuk mencegah, mengobati, dan meredakan penyakit. Ia menekankan pentingnya menggunakan obat sesuai indikasi dan dosis yang tepat. Siswa dikenalkan pada jenis-jenis obat, yaitu obat generik dengan nama resmi sesuai Farmakope Indonesia, obat paten dengan nama dagang terdaftar, serta obat asli atau tradisional berbahan alami.
Tak hanya itu, Bunda Rita juga mengulas simbol pada kemasan obat: lingkaran hijau untuk obat bebas, biru untuk obat bebas terbatas, dan lingkaran merah bertanda huruf “K” untuk obat keras yang wajib menggunakan resep dokter. Penjelasan ini membuka kesadaran siswa bahwa setiap tanda memiliki makna penting bagi keamanan penggunaan obat.
Memasuki sesi profesi, Bunda Rita menjelaskan bahwa apoteker adalah tenaga kesehatan yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan obat. Tugasnya meliputi mengkaji resep, memastikan ketepatan dosis, mengelola sediaan farmasi, memberikan edukasi kepada pasien, hingga memantau terapi obat. Profesi ini menuntut ketelitian tinggi karena kesalahan kecil dalam perhitungan dosis dapat berdampak besar pada keselamatan pasien.
Antusiasme siswa terlihat jelas sepanjang kegiatan. Mereka aktif menjawab pertanyaan yang diajukan narasumber. Ketika Bunda Rita bertanya, “Di mana saja wilayah kerja apoteker?” Eury Aleysha dengan cepat menjawab, “Apotek, rumah sakit, industri farmasi, dan BPOM.” Jawaban tersebut langsung mendapat apresiasi karena tepat dan lengkap, termasuk peran pengawasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam menjamin keamanan dan mutu obat di Indonesia.
Diskusi semakin hidup saat sesi tanya jawab. Safiratul Ulya mengangkat tangan dan bertanya tentang obat berlogo lingkaran merah yang pernah dibeli ibunya tanpa resep dokter. Pertanyaan tersebut menjadi momen edukatif penting. Bunda Rita menegaskan bahwa obat keras seharusnya hanya diperoleh dengan resep dokter karena penggunaannya perlu pengawasan medis untuk menghindari risiko efek samping maupun kesalahan dosis.
Rashana Apta Hariadi, salah satu siswa kelas VIII ICP Germanium, juga mengungkapkan ketertarikannya pada pembahasan tentang dosis dan proses peracikan obat. Ia menyatakan mulai mempertimbangkan dunia farmasi sebagai pilihan studi lanjut dan karier di masa depan.
Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan Marketing, Edy Kurniawan, S.Si, menyampaikan bahwa program OTM merupakan bentuk sinergi sekolah dan orang tua dalam memperkaya wawasan siswa. Melalui keterlibatan langsung orang tua sesuai bidang profesinya, siswa mendapatkan pembelajaran nyata yang relevan dengan kehidupan dan pilihan karier masa depan.
Penulis: Dina Hanif Mufidah
