Spemdalas Chat Widget
AISA

Chat AISA

Artificial Intelligence Spemdalas Assistant
Halo! Saya AISA - Artificial Intelligence Spemdalas Assistant.
Ada yang bisa saya bantu?

Dibalik Kata ‘Gak Papa’: Mengungkap Krisis Kesehatan Mental pada Remaja

0
0
0
0

“Kamu kenapa?, tanyaku.

“Gak papa,” jawabnya singkat sembari melempar pandangan. Menghindari tatapanku.

“Ada apa? Barangkali ada sesuatu yang perlu kamu sampaikan?,” tanyaku lagi.

“Gak papa. Bener gak papa,” jawabnya lagi.

Dialog ini menjadi makanan sehari-hari, terutama di kalangan remaja. Suasana diri yang berubah menjadi simbol yang ketika coba dikulik hanya mendapati jawaban singkat, gak papa.

Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan mental adalah kondisi kesehatan yang memiliki keseimbangan yang baik antara fisik, mental, dan sosial. Tidak hanya itu, kesehatan mental juga mencakup kemampuan seseorang untuk mengatasi stres, berkontribusi pada komunitas mereka, dan merasa baik tentang diri mereka sendiri. Itu berarti kesehatan mental tidak hanya mempengaruhi pikiran, tapi juga kesehatan fisik seseorang.

Gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, termasuk remaja. Hal ini dibuktikan dengan data survei berskala nasional yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Data ini membuktikan bahwa banyak remaja Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Ada beberapa penyebab gangguan kesehatan mental pada remaja. Pertama adalah faktor keluarga. tidak semua remaja beruntung dan dapat tumbuh di keluarga cemara. Banyak dari mereka yang mendapatkan pola asuh yang kurang baik, konflik dalam rumah tangga, perceraian orang tua atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam seperti ini seorang remaja sangat rentan mengalami stres, ganguan kecemasan, atau depresi.

Faktor kedua adalah tekanan akademik yang berat. Teman-teman, kalian pernah mengalami gak tugas yang menumpuk, ujian mendadak, dan tekanan dari berbagai pihak. Hal tersebut pasti menjadi beban yang sangat berat. Jika tekanan ini terjadi secara terus-menerus terjadi dapat menyebabkan kelelahan dan kesehatan mental.

Berikutnya adalah pengaruh media sosial. Media sosial menampilan “versi sempurna” dari seseorang. Wajah yang putih bersih, kehidupannya mewah, dan bahagia menjadi privilege yang didamba. Hal ini dapat menimbulkan perasaan insecure. Jika tidak dimanajemeni dengan baik, dapat menyebabkan rendah diri, kecemasan, bahkan depresi.

Keberadaan penyebab di atas sulit dihindari keberadannya. Alhasil, remaja cenderung memilih memendam kondisi mental dan mengasosiasikan dengan kata ‘gak papa’. Padahal, dengan mengatakan ‘gak papa’ hal tersebut secara tidak langsung memunculkan ‘apa-apa’. Alih-alih menjelaskan, justru ‘apa-apa’ tersebut ditekan dan menggantinya dengan ‘gak papa’.

Melalui tulisan ini, Saya mengajak teman-teman untuk tidak hanya menggunakan ‘gak papa’ untuk menutupi emosi yang terjadi. Alih-alih menutupi, jujur tentang apa yang kita rasakan jauh membuat mental lebih sehat.

Setelah itu, perlu evaluasi diri. Jikalau sedang lelah atau butuh istirahat, jangan pernah malu untuk mengutarakan hal tersebut. Tak hanya itu, kita juga perlu belajar memanajemen waktu dengan baik. Tetap melaksanakan segala tanggung jawab, tetapi juga menyediakan waktu istirahat. Marilah kita menyayangi diri dengan cara menjaga kesehatan mental dan fisik kita.

Penulis : Alaric Az Zahidi (OST Jurnalistik Spemdalas)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Footer Section