Curahan Hati pun Bisa Jadi Modal Menulis Opini

Ria Pusvita Sari saat menyampaikan materi Workshop Menulis Opini secara daring. (Tangkapan layar Anis Shofatun/PWMU.CO).

PWMU.CO – Curahan Hati pun Bisa Jadi Modal Menulis Opini. Begitulah jika Editor PWMU.CO Ria Pusvita Sari MPd memberikan motivasi pada 49 guru Spemdalas agar gampang menulis opini.

Pada Workshop Menulis Opini yang digelar secara virtual melalui Zoom Clouds Meeting, Jumat (22/1/2021) itu, Vita, sapaannya, menyampaikan, menulis opini, ide, gagasan, atau pendapat pribadi itu mudah. Tidak sesulit yang dibayangkan orang.

Apalagi di zaman sekarang ini, hal tersebut dapat ‘disuarakan’ secara efektif dan ekspresif melalui platform digital atau media sosial.

“Era digital ini, kita bisa banyak berlatih menulis melalui platform jejaring komunitas dan media sosial,” kata Magister Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya ini.

Tulisan Ilmiah Populer

Meskipun begitu, ia menegaskan dalam menulis opini tetap harus memenuhi standar penulisan ilmiah populer. Maksudnya, ilmiah karena tulisan tetap merujuk pada teori-teori yang relevan, data-data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan argumentasi yang logis. Tetapi disajikan secara populer sehingga memudahkan dicerna oleh pembaca.

“Meskipun tulisan itu bersumber dari pendapat pribadi, tetap harus ilmiah karena bukan tergolong tulisan fiksi,” terangnya.

Pada kegiatan yang diselenggarakan oleh SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik bekerja sama dengan Sinergi Jurnalistik Majelis Dikdasmen PCM GKB Gresik ini, Vita menjelaskan empat langkah menulis opini.

Pertama, mengawali dari gagasan, unek-unek, atau fenomena kehidupan. Menurutnya beragam fakta di sekitar yang menjadi fenomena kehidupan menarik untuk dijadikan bahan menulis opini.

Terlebih bila sedang menjadi bahasan publik atau trending, seperti bencana di berbagai daerah, kebosanan siswa belajar di rumah, dan lain sebagainya.

“Bahkan curhatan hati pun bisa jadi modal menulis opini secara efektif dan ekspresif,” katanya sambil menunjukkan tulisan opininya berjudul Virus Corona Paksa Guru Melek IT yang terbit di awal musim pandemi Maret 2020 lalu.

Vita memberi contoh pengalamannya menulis opini yang dimuat di majalah Matan Edisi Maret 2020—sebelum pandemi Covid-19 resmi diumumkan melanda Indsonesia.

Opini berjudul Menyoal Compassionate Sekolah Kita itu terinspirasi dari kunjungan yang ia lakukan ke sekolah ‘sekuler’ di Surabaya Barat namun memiliki budaya yang ramah dan tutur kata yang santun.

Inspirasi bersambung saat ia mengikuti open school di sebuah sekolah Islam di Malang yang memberikan sambutan sangat bersahabat. Selain itu, ia mencermati sekolah unggulan di Surabaya—yang meskipun gedung megah, beragam prestasi dan siswanya banyak—tapi minus keramahan dan terkesan cuek bebek.

Fenomena yang ia temui itu menjadi ganjalan dalam hatinya yang kemudian dia tulis sebagai curahan hati: bagaimana dengan sekolah Muhammadiyah?

“Nah pengalaman yang kita rasakan ini juga bisa menjadi bahan ide menulis opini,” kata Koordinator Humas SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik itu.

Kepala Spemdalas Fony Libriastuti (kanan) saat membuka Workshop Menulis Opini / didamping MC Fitriyatus Saadah. Curahan Hati pun Bisa Jadi Modal Menulis Opini (Tangkapan layar Anis Shofatun/PWMU.CO)

Masalah Sehari-hari

Langkah kedua yang ditawarkan Vita adalah menulis opini dengan sudut pandang atau perspektif ‘kita’. Menurut ia menulis opini akan jauh lebih mudah bila sesuai dengan hal atau yang digeluti sehari-hari.

Seperti pengalamannya saat menulis tentang Compassionate School itu. Dalam tulisan itu Sekretaris Divisi Pendidikan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jatim ini mengaitkan dengan budaya Islam dan branding sekolah sehingga nilai kepercayaan masyarakat terhadap sekolah Muhammadiyah semakin tinggi.

“Bagaimana seharusnya dengan sekolah kita? Jika sekolah Muhammadiyah tidak memperhatikan pelayanan, lantas apa yang hendak dijual?” tulisnya di Matan.

Vita juga memberikan arahan kepada guru-guru Spemdalas bahwa menulis opini akan sangat mudah bila topik yang diangkat dekat dengan kehidupannya. Dan itu tidak selalu berupa kritikan atas kebijakan pemerintah.

“Tulis apa saja fenomena yang terjadi dalam kelas kita sebagai seorang guru. Datanya sudah jelas, lalu bisa ditawarkan tips, ulasan, atau solusi,” jelasnya.

Ketiga, mengelaborasikan gagasan dengan merujuk pada data atau teori ilmiah. Ia menyampaikan, ide, gagasan, dan opini yang dimuat di berbagai media akan semakin menarik perhatian pembaca, bila diperkuat dengan data-data dan teori-teori yang relevan dengan topiknya.

Dia mencontohkan dalam opini Compassionate School yang menghubungan fenomena yang ia lihat dengan gagasan pendiri Peace Generation Irfan Amalee melalui bukunya Islam Itu Ramah Bukan Marah.

Sedangkan pada opini Corono Paksa Guru Melek IT, Vita menggunakan data dari trend berita yang masuk di PWMU.CO tentang sekolah daring dan kebijakan pemerintah dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Penulis opini harus banyak membaca, agar bisa mengelaborasi antara pendapat pribadi dengan berbagai referensi yang dikutip,” pesannya.

Langkah keempat, menawarkan solusi. Ia menjelaskan, dalam merespon fenomena mungkin sesuai dengan harapan, tapi kadang pula tidak sesuai dengan pemikiran penulis.

Maka menurut anggota Divisi Informasi Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kabupaten Gresik ini sebisa mungkin dalam menulis opini ditawarkan solusi yang membangun atau mencerahkan bagi pembaca.

Curahan Hati pun Bisa Jadi Modal Menulis Opini. Sebagian peserta workshop. (Tangkapan layar Anis Shofatun/PWMU.CO)

Materi yang Memotivasi Peserta

Materi yang diberikan Vita itu mampu menggugah minat menulis peserta, seperti diungkapkan Eka Putri Fatmala SPd. Dia mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan workshop menulis opini tersebut.

“Ini pematerinya menarik sekali. Runtut dan gamblang. Jadi saya tertantang untuk bisa menggeluti dunia tulis-menulis,” katanya saat diwawancarai PWMU.CO melalui WhatsApp, sabtu (23/1/2020).

Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) yang mengaku baru kali pertama mengikuti pelatihan menulis ini termotivasi dalam dunia menulis. Terbukti dia mampu mengumpulkan tulisan opini tercepat ketiga dengan dan berhak mendapat reward dari sekolah.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator Mata Pelajaran Bahasa dan Sosial, Evi Mauludina SPd. Dia mengaku memperoleh gambaran tentang trik dan tips menulis opini.

Guru PPKn ini semakin penasaran dan tertantang untuk menulis opini di media massa. “Ada tantangan tersendiri ketika opini yang kita tulis dibaca dan dikritik kembali oleh banyak orang,” katanya.

Karya Jadi Buku

Kepala Spemdalas Gresik Fony Libriastuti MSi mengatakan, kegiatan ini digelar agar memotivasi guru dalam menjaga spirit tulis-menulis.

“Belajar dari buku Merawat Singa Kreatif (karya guru Spemdalas: Ichwan Arif), tulis apa saja yang ada dalam pikiran Ustadz dan Ustadzah. Latih ketrampilanya dan nanti akan terbiasa,” katanya penuh semangat.

Dia menjelaskan, rencananya karya yang dihasilkan dari kegiatan yang rutin digelar tiap semester ini akan dibukukan. “Pada tahun 2020 lalu, tulisan guru-guru Spemdalas telah diterbitkan dengan judul Rumah Pendidikan,” ujarnya.

Pada kegiatan yang berlangsung pukul 13.00-15.00 WIB tersebut juga diadakan praktik on the spot menulis opini dengan tema “Juara”. Kegiatan berlangsung sangat interaktif meskipun diselenggarakan secara online.

Pada kegiatan workshop tersebut terpilih tiga penulis opini tercepat dan satu penulis terbaik yaitu:

Kategori Penulis Tercepat

  1. Emi Wijayanti SPd (Guru IPS)
  2. Haifa Marta SPd (Guru Bahasa Indonesia)
  3. Eka Putri Nurfatmala SPd (Guru PJOK)

Kategori Penulis Terbaik
Yugo Triawanto MSi (Guru IPA-Fisika)

Selamat! (*)

Penulis Anis Shofatun. Editor Mohammad Nurfatoni.

Sumber: https://pwmu.co/174764/01/23/curahan-hati-pun-bisa-jadi-modal-menulis-opini/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *